Rasa pertama

Manis,
Rasa vanilla masih terasa lekat di sana
Mungkin karena itu rasa yang kusuka
Atau entahlah..

Lembut,
Setiap gerakan mengalir mengikuti irama
Tanda aku mulai terbiasa meski kali pertama

Indah,
Kutemukan cara melihat bukan dengan mata
Hanya rasa, dan gelenyar yang menari-nari di sekujur tubuh

Aku bahagia.

Edited by @penyairlangit_

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Waktu yang berbeda tanpamu

Tiga jarum jam tak akan pernah lelah memburu kesalahan di masa lalu.

*** Tapi jarum-jarum itu mampu menyembuhkan  segala luka akan dirimu ***

Tak bisakah kau berhenti mengejar waktu, karena itu membuat aku semakin rindu.

*** Aku tak pernah mengejar waktu sayang, tapi terkurung dalam dimensinya saat tak bersama mu ***

Seperti pintu tanpa kunci yang tak bisa ku masuki — dimensimu sayang, keluarlah dari ruang rindu itu.

Aku setia menanti

*** Setelah aku keluar nanti bisakah engkau berjanji, akan terus menggenggam jemari meski tiga jarum jam berhenti ? ***

Tinggalkan kenangan lamamu di sana.

Aku akan menjagamu seperti jingga disetiap senja.

*** Tanpa air mata duka, itu yang kupinta ***

*** Biar bisa ku menikmati indahnya senja berdua, dalam dekapmu ***

16 September 2011 ~
Hasil meracau dini hari di twitter bersama @matthewsevan

Kenang yang kehilangan genggam..

Aku terdampar dalam kelamnya rindu yang memendam, merampas sunyinya diam. Meriuhkan kenang akan duka yang mendalam.

Engkau menghilang dalam terang keabadian, bahkan tak sempat menoleh ke belakang, memberiku senyuman yang menyejukan.

Kita, sepasang genggam yang harus terlepaskan, belajar menapaki kenyataan tanpa dekapan, hanya kenang.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tentang Senja

Sedang menikmati waktu bersantai sore hari ditemani rinai hujan, tiba-tiba berfikir tentang senja yang ku cinta.

Apakah aku akan tetap mencinta, jika senja bukan serupa jingga ?

Jawaban pertanyan itu sudah dijawab melalu twitter 23 Agustus 2011 ~ @DewiMutiaraa Kamu serupa senja, meski bukan jingga, dan aku tetap mencinta.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Jingga yang berduka

Dan kepadamu senja, pemilik kesenduan yg memerah luka, ingatkan aku akan jingga, rona dari kerinduan yang terlalu memburu
Senja yang tak selalu jingga, terkadang menorehkan luka, membuat rindu membiru, terlalu lelah mendobrak pintu hatimu
Bilur yg membiru itu adalah jejak lukaku, untuk rindu yg terabaikan, sampai segala duka terbenam dalam liang ataupun kenang
Untuk setiap duka dalam kenang, akan tetap ada asa yang melayang, menanti rindumu dalam tenangnya diam
Diam-diam, bibir ini meracaukan namamu, serupa sajak kesunyian yang hanya mampu getarkan rindu dalam denyut nadimu
Dalam lirihnya denyut, ada derasnya aliran angan yg berharap bertemu dengan rindumu dalam suatu simpang, beriringan menuju samudera kenyataan
Pada harap, pada angan dan pada mimpi; doaku adalah untukmu, merapalkan namamu adalah selalu, bertemu denganmu adalah yg kurindu.

1 September 2011 ~ Hasil racauan di twitter bersama kak @Olga_imoet